Friday, October 07, 2005

Satu Menit

Satu menit?
Sepertinya tak bermakna, mungkin karena tak berasa. Lewat begitu saja. Hanya enam puluh ketukan, jika satu ketukan itu bernilai satu detik. Benar-benar tak terasa, hingga akhirnya tak dimaknai. Seringkali kumpulan menit itu kita perlakukan seperti air, mengalir begitu saja. Tanpa kita berikan arah, tanpa kita tetapkan tempat berakhir. Mengalir, mengalir dan mengalir.

Seringkali himpunan menit itu kita perlakukan seperti gelas, kita isi dan nikmati tanpa kita sadari khasiat dari isi gelas itu sendiri. Yang penting lezat, segar dan mengusir rasa haus kita.

Padahal satu menit, enam puluh ketukan itu bisa membawa kita kepada dua pilihan tempat berakhir. Keindahan atau kepedihan. Karena enam puluh ketukan itu ternyata bernilai, sangat bernilai dimata Sang Pemilik waktu, Sang Maha Penghenti waktu. Karena satu menit itu tak pernah luput dari penglihatan dan pengawasan Sang Maha Bijak, Sang Maha Pemberi ganjaran. Karena satu menit itu memiliki arti bagiNya, atas keputusan yang ditetapkan untuk kita.

Dia akan menghargai satu menit yang dimiliki dalam hidup ini dengan berlipat penghargaan yang tak terbayangkan oleh kita. Karena Dia-lah sebaik-baiknya pemberi penghargaan bagi manusia yang tak pernah lelah mencari perhatianNya.
Satu menit saja, tak lebih, dapat bermakna, jika kita mau. Satu menit saja, hanya satu menit, dapat bernilai, jika kita tahu. Karenanya satu menit itu tak layak kita buang.

Dalam satu menit, kita bisa melakukan banyak kebaikan dan kebahagiaan. Dalam satu menit kita bisa mendendangkan al-Faatihah dengan penuh cinta sebanyak tiga kali. Hanya tiga kali memang, tapi menurut orang-orang bijak, dengan membaca al-Faatihah satu kali saja, Allah memberikan 600 kebaikan. Dalam satu menit, kita dapat membisikkan surat al Ikhlaas dua puluh kali, tak perlu bersuara, hanya berbisik. Allah menilai bisikan penuh makna itu sama seperti kita membaca sepertiga kitabNya.
Dalam enam puluh ketukan itu, kita bisa membaca sedikit saja ayat-ayat dari kalimatNya yang dirangkai dalam Al Qur'an. Dalam satu menit itu, kita bisa mencoba menghafal ayat-ayatNya untuk senantiasa mengingatnya dan mengiri langkah-langkah kita.

Dalam satu menit, kita bisa mengaturkan dzikir, Laa ilaaha illallaah wahdahu laa shariikalah,lahu'l-mulk wa lahu'l-hamd wa huwa 'ala kulli shay'in qodiir.

Dalam satu menit kita bisa mengirimkan puji Subhaanallaahi wa bi hamdihi sebanyak seratus kali. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita meski dosa itu sebanyak buih di lautan.

Dalam satu menit kita bisa membalas cintaNya dengan mengucap Subhaan allaahi wa bi hamdihi Subhaanallaahil-'Aziim sebanyak lima puluh kali. Allah mencintai manusia yang mengucapkan dua kata ini dari bibirnya, demikian yang tertulis dalam hadits riwayat Bukhari Muslim. Rasul berkata, "Saat aku mengucapkan 'Subhaanallaah, wa'l-hamdu Lillah, wa laa ilaah ill-Allaah, wa Allaahu Akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Tiada tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar), maka cintaNya berhamburan untukku (hadits riwayat Muslim).

Dalam satu menit, kita dapat mengucapkan itu sebanyak delapan belas kali. Karena kata-kata ini senantiasa dicintaiNya, kata-kata terbaik penuh dengan makna.

Dalam satu menit, kita bisa menyatakan Tidak ada kekuatan dan kekuasaan selain milikNya, Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah. Kata-kata ini adalah satu dari kekayaan dari surga, seperti yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari-Muslim. Kata kata ini membuat Allah mengangkat kesulitan yang ada dan membantu kita meraih yang kita inginkan.

Dalam satu menit, kita bisa menegaskan kembali pernyataan kita terdahulu, sebelum kita lahir ke dunia ini, Laa ilaaha ill-Allaah sebanyak lima puluh kali. Ini adalah kata-kata terbesar milikNya. Karena dengan memaknai kata-kata ini dalam hati, sudah cukup bukti bahwa kita mengakui keberadaanNya.
Dalam enam puluh ketukan kita bisa membaca Subhaanallaah wa bi hamdih, 'adada khalqihi, wa ridaa nafsihi, wazinata 'arshihi, wa midaada kalimaatihi (Maha suci Allah, sebanyak apa yang diciptakanNya, sebanyak keridhoanNya, seberat Arasy-Nya dan sebanyak cinta kata-kataNya).

Dalam satu menit, kita dapat memohon ampunanNya dengan membaca Astaghfir-Allaah sebanyak seratus kali. Dengan kesadaran sepenuhnya atas berjuta dosa yang kita lakukan. Dalam satu menit, kita dapat mengirim doa untuk junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw, dengan mengucap Sallallaahu 'alayhi wasallam (Semoga Allah memberkati dan memberinya kedamaian). Dengan doa itu Allah akan memberikan lima ratus kebaikan.

Dalam satu menit, kita bisa memotivasi hati kita dengan menghaturkan terima kasih padaNya, MencntaiNya, hanya berharap padaNya, takut atasNya, dan tetap melanjutkan hidup hanya karenaNya. Ini bisa kita lakukan saat kita merebahkan tubuh kita untuk beristirahat atau mungkin saat kita berjalan menuju suatu tempat.

Dalam satu menit, kita bisa membaca lebih dari dua halaman dari buku yang bermanfaat bagi kita, dan membuat kita lebih memaknai hidup. Dalam satu menit, kita bisa mencurahkan kerinduan, berbincang dengan teman lama yang terikat karena cinta Allah.

Dalam satu menit kita bisa menengadahkan tangan dan memanjatkan doa atas apa yang kita harapkan bagi diri ini.

Dalam satu menit kita bisa mengucapkan salam, mendoakan orang lain atas keselamatannya. Dalam satu menit kita bisa sedikit merenung, mengusir bisikan setan yang senantiasa tak pernah bosan mengganggu kita untuk berpaling dariNya.

Dalam satu menit kita bisa menikmati sesuatu dengan penuh rasa syukur, bahwa kita masih punya waktu menikmatinya. Dalam satu menit kita bisa memberikan kata-kata berharga bagi saudara kita, sekedar saling mengingatkan ke-alfaannya, menunaikan haknya untuk selalu diingatkan. Dalam satu menit kita bisa membuang sesuatu yang berbahaya ditengah jalan.
Hanya satu menit, dan semoga berarti bagiNya.

May ALLAH always be with u...........

Thursday, October 06, 2005

Istimewanya Wanita Islam

Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM, lihat saja peraturan dibawah ini :

1. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pada isterinya.
7. talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.

Makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?
Itulah bandingannya dgn seorg wanita.

Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH dimukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggung jawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini : Suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja : Sembahyang 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, Taat suaminya dan menjaga kehormatannya.

Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH ... demikian sayangnya ALLAH pada wanita kan?

Saturday, September 24, 2005

Tahukah Kita?

Tahukah Kita?

Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi.Untuk bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak didalam tengkorak kepala kita sehingga tidak peduli semiskin apapun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita, pikiran kita dan ide kita. Dan apa yang anda pikiran dalam otak anda jauh lebih berharga dari emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa mengoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi>> lihat dan dengarlah>> sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh didalam tulang iga kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia. Berilah cinta tanpa meminta balasan. Kita akan menemukan cinta yang jauh lebih indah.

Friday, September 23, 2005

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

By M. Fauzil Adzim

Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak.
Lihatlah istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda.
Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap.
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari.
Di saat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar benar menemukan kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis.
Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi.
Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.

Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tentang dia?
Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut pada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya?

Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang> perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak.

Tidak. Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak.

Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannva yanq bikin sakit. Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng.
Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar.

Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi Saw. Tak mau mendengar melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi 'Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari.
Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih-sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apa pun ia.

Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini.

Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri Anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkankah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk menqucap terima kasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, "Ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu?" Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin> sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kila lakukan.

Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan, terserah Anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada airmata duka yang> menetes dari kedua kelopaknya.

Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang> kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda 'Aisyah radhiyallahu anha berucap tentang suaminya, Rasulullah Saw., "Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku."

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin¡¡bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan,

Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia,sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita. "Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah,"kata Rasulullah Saw melanjutkan, 'kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitab Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik. "

Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah Taala bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya kah kita mengabaikannya sehingga gurat-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri. Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-banar memaafkan kekurangan saya sebagai suami.

Indahya, semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya.

Sunday, September 18, 2005

9 Mimpi Nabi Muhammad SAW

Dari Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:
"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatang oleh malaikatul
maut dengan keadaan yang amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, maka ia telah diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.

4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab, tetapi SHOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat,setiap kali dia mendatangi satu telaga dihalang dari meminumnya, ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil memimpinnya ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita disekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-menderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya, maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.

BERSABDA RASULULLAH SAW, "SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"

Tuesday, September 13, 2005

Perempuan di Otak Lelaki

Sebuah artikel kiriman dari seorang teman.. mohon maaf tidak dicantumkan sumbernya darimana
*****

Kamu tau kenapa saya suka wanita itu pakai jilbab?

Jawabannya sederhana, karena mata saya susah diajak kompromi. Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengontrol mata saya ini mulai dari keluar pintu rumah sampai kembali masuk rumah lagi.

Dan kamu tau? Di kampus tempat saya seharian disana, kemana arah mata memandang selalu saja membuat mata saya terbelalak. Hanya dua arah yang bisa membuat saya tenang, mendongak ke atas langit atau menunduk ke tanah. Melihat kedepan ada perempuan berlenggok dengan seutas "Tank Top", noleh ke kiri pemandangan "Pinggul/udel terbuka", menghindar kekanan ada sajian "Celana ketat
plus You Can See", balik ke belakang dihadang oleh "Dada indah/montok menantang!"

Astaghfirullah... kemana lagi mata ini harus memandang?

Kalau saya berbicara nafsu, ow jelas sekali saya suka. Kurang merangsang itu mah! Tapi sayang, saya tak ingin hidup ini dibaluti oleh nafsu. Saya juga butuh hidup
dengan pemandangan yang membuat saya tenang. Saya ingin melihat wanita bukan sebagai objek pemuas mata. Tapi mereka adalah sosok yang anggun mempesona, kalau dipandang bikin sejuk di mata. Bukan paras yang membikin mata panas, membuat iman lepas ditarik oleh pikiran "ngeres" dan hatipun menjadi keras.

Andai wanita itu mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki ketika melihat mereka berpakaian seksi, saya yakin mereka tak mau tampil seperti itu lagi. Kecuali bagi mereka yang memang punya niat untuk menarik lelaki untuk menikmati "aset berharga" yang mereka punya.

Istilah seksi kalau boleh saya definisikan berdasar kata dasarnya adalah penuh daya tarik seks. Kalau ada wanita yang dibilang seksi oleh para lelaki, janganlah berbangga hati dulu. Sebagai seorang manusia yang punya fitrah dihormati dan dihargai semestinya anda malu, karena penampilan seksi itu sudah membuat mata lelaki menelanjangi anda, membayangkan anda adalah objek syahwat dalam alam pikirannya. Berharap anda melakukan lebih seksi, lebih... dan lebih lagi.

Mau tidak mau, sengaja ataupun tidak anda sudah membuat diri anda tidak dihargai dan dihormati oleh penampilan anda sendiri yang anda sajikan pada mata lelaki. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada diri anda, apa itu dengan kata-kata yang nyeleneh,
pelecehan seksual atau mungkin sampai pada perkosaan. Siapa yang semestinya disalahkan? Saya yakin anda menjawabnya "lelaki" bukan? Oh betapa tersiksanya menjadi seorang lelaki normal di jaman sekarang ini. Kalau boleh saya ibaratkan, tak ada pembeli kalau tidak ada yang jual. Simpel saja, orang pasti akan beli kalau ada yang nawarin. Apalagi barang bagus itu gratis, wah pasti semua orang akan berebut untuk menerima. Nah apa bedanya dengan anda menawarkan penampilan seksi anda pada khalayak ramai, saya yakin siapa yang melihat ingin mencicipinya.

Begitulah seharian tadi saya harus menahan penyiksaan pada mata ini. Bukan pada hari ini saja, rata-rata setiap harinya. Saya ingin protes, tapi mau protes ke mana? Apakah saya harus menikmatinya...? tapi saya sungguh takut dengan Zat yang memberi mata ini. Bagaimana nanti saya mempertanggungjawabkan nanti? Sungguh dilema yang berkepanjangan dalam hidup saya.

Allah Taala telah berfirman: "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya", yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya." (QS. An-Nuur : 30-31).

Jadi tak salah bukan kalau saya sering berdiam di ruangan kecil ini, duduk di depan komputer menyerap sekian juta elektron yang terpancar dari monitor, saya hanya ingin menahan pandangan mata ini. Biarlah mata saya ini rusak oleh radiasi monitor, daripada saya tak bisa pertanggungjawabkan nantinya di Akhirat.

Jadi tak salah juga bukan? kalau saya paling malas diajak ke mall, kafe, dan semacam tempat yang selalu menyajikan keseksian. Saya yakin, banyak laki-laki yang punya dilema seperti saya ini. Mungkin ada yang menikmati, tetapi sebagian besar ada yang takut dan bingung harus berbuat apa.

Bagi anda para wanita apakah akan selalu bahkan semakin menyiksa kami sampai kami tak mampu lagi memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk. Kemudian terpaksa mengambil kesimpulan menikmati pemandangan yang anda tayangkan?


So, saudaraku muslimah berjilbablah ... karena itu sungguh nyaman, tentram, anggun, cantik, mempesona dan tentunya sejuk dimata lelaki.

Friday, August 26, 2005

Kekasih Standar vs Kekasih Sejati



Apa sih bedanya kekasih standard sama kekasih sejati?
Yang pasti.. tidak ada kasih yang sejati selain kasih Allah SWT dan Rasulullah SAW kepada umatnya.


Kekasih standard selalu ingat senyum di wajahmu
Kekasih sejati juga mengingat wajahmu waktu sedih

Kekasih standard akan membawamu makan makanan yang enak-enak
Kekasih sejati akan mempersiapkan makanan yang kamu suka

Kekasih standard setiap detik selalu menunggu telpon dari kamu
Kekasih sejati setiap detik selalu teringat ingin menelponmu

Kekasih standard selalu mendoakan mu kebahagiaan
Kekasih sejati selalu berusaha memberimu kebahagiaan

Kekasih standard mengharapkan kamu berubah demi dia
Kekasih sejati mengharapkan dia bisa berubah untuk kamu

Kekasih standard paling sebal kamu menelpon waktu dia tidur
Kekasih sejati akan menanyakan kenapa sekarang kamu baru telpon?

Kekasih standard akan mencarimu untuk membahas kesulitanmu
Kekasih sejati akan mencarimu untuk memecahkan kesulitanmu

Kekasih standard selalu bertanya mengapa kamu selalu membuatnya sedih?
Kekasih sejati akan selalu mananyakan diri sendiri mengapa membuat kamu sedih?

Kekasih standard selalu memikirkan penyebab perpisahan
Kekasih sejati memecahkan penyebab perpisahan

Kekasih standard bisa melihat semua yang telah dia korbankan untukmu
Kekasih sejati bisa melihat semua yang telah kamu korbankan untuknya

Kekasih standard berpikir bahwa pertengkaran adalah akhir dari segalanya
Kekasih sejati berpikir, jika tidak pernah bertengkar tidak bisa disebut cinta sejati

Kekasih standard selalu ingin kamu disampingnya menemaninya selamanya
Kekasih sejati selalu berharap selamanya bisa disampingmu menemanimu

Thursday, August 25, 2005

Why am i proud to be a full time mother

I found this nice article in the internet. Kind of open my mind . Sengaja gue ketik ulang biar pas ngetik bisa sekalian baca lagi..dan lagi..dan lagi...

May 5,2003
Yesterday I was asked for the 553rd time whether I'm back at work yet. I don't know whether it's just become one of those meaningless conversation jumper-leads, like "how are you?" , but that question is loaded with meaning for me. My reply, finely tuned from extraordinary repetition, was that I'm working full time, I just don't get paid for it.

For nine years I was a media and entertainment lawyer and then a communications consultant, managing a team, working 11-hour days as a matter of course, loving it. I'd expected I'd have a few months "off" and get "back" to work when the baby was, maybe six months old. Just a couple of days a week, to keep my hand in and keep the cerebral juices flowing, then ease back into it. Well, he's 13 months old now and I can't imagine why I would want to hand him over to someone else for 11 hours a day - even twice a week. My son, scrumptious energy ball that he is, keeps me busier and more challenged than any other job I've ever had.

And this is why I hear Virginia Haussegger's question ("Has feminism let us down?" , on this page on April 23) loud and clear, from the other side of the river.Don't get me wrong, our lot is a whole lot better than that of women who've gone before us, and I believe Natasha Cica ("Single, childless and proud to be feminist", on this page last Thursday) completely miscontrues Haussegger's position if that's where she thinks she was going. But if one effect of feminism's legacy is that full-time motherhood is so devalued as to need constant justification, then we have all been let down. I call myself a feminist, and feminism was supposed to give us choices. I'm lucky to have had the choice not to go back into the paid workforce yet. And I don't denigrate other mums who, if they have that choice, resume their careers and somehow manage the demands of home and health as well. But I wonder if people realise just how much pressure there is to justify why I haven't done that.

Sure, the relentless loads of washing, the insanely boring trawls through the supermarket for all sorts of items I never knew existed before, and the endless battle to keep the house reasonably clean for a toddler who gets into everything is not what I spent six years at uni for. But the daily experiences of wonderment with my son, with his constant "What's that?" and his breathless excitement at the sound of the birds or the wind in the trees or the plane overhead (as laughing, he waves and calls out "Bye!" to the people I've told him are up there in the sky ) are downright precious. In spending time introducing him to sunshine and ants and music, and to ideas like generosity and compassion and patience, I hope to teach him how to be a good person who does good in his community. And I know how lucky I am to be the one doing it.

It's only now that I fully appreciate what my mother did for my four siblings and I - her extraordinary energy and endless patience and ingenuity, shaping us into confident, honest, discerning, happy people with a sense of our responsilities as citizens. All this commercial stuff in the lead-up to Mother's Day is rubbish, of course , but if it makes us stop and think for just one moment how much our mothers have contributed to the relatively safe, generous, humane society we live in (or aspire to), then it's worth it. But we don't develop a culture that acknowledges that contribution while we still marginalise, full time motherhood economically, John Howard's baby bonus (of $349 for me, last financial year) didn't even pay four months' worth of nappies.

Anyway, now I know what a full-on job motherhood is. And of others know, too. That's why I wonder why so many of us seem to believe that to have baby is to have "time off" from life. Which life is that?

http://www.theage.com.au

Kita cerai saja ... :)

Received this nice story from Jinten Tralala... thanks Tan!!

Kita Cerai Saja....Publikasi: 05/12/2003 08:51 WIB

Saat aku dilamar suamiku, aku merasa bahwa akulah wanita yang paling beruntung di muka bumi ini. Bayangkan dari sekian juta wanita di dunia ini, aku yang dia pilih untuk jadi isterinya. Kalau aku persempit, dari sekian banyak wanita di negara ini, di propinsi ini, di kota ini,di rumah ibuku yang anak perempuannya 3, aku yang paling bungsu yang dipilih untuk jadi isterinya! Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.

Aku berusaha keras menjadi isteri yang baik, patuh pada suami, menjaga kehormatanku sebagai isterinya, menjadi ibu yang baik, membesarkan anak-anakku menjadi sholih dan sholihah. Aku memanfaatkan pernikahanku sebagai ladang amalku, sebagai tiket ke surga

Walaupun begitu... hidup seperti halnya makanan penuh dengan bumbu. Ada bumbu yang manis, yang pahit, yang pedas, dan lain-lain. Aku juga menghadapi yang namanya ketidakcocokan atau selisih paham dengan suamiku, baik itu tidak sepaham, kurang sepaham, agak sepaham, hampir sepaham, atau apapunlah itu. Tapi aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku mencoba berpikiran terbuka, mengakui kebenaran bila suamiku memang benar an mengakui kesalahan bila aku memang salah. Aku mencoba bertuturkata lembut menegur kesalahan suamiku dan membantunya memperbaikinya agar ia merubah sikapnya. It's all about compromising. Namun apalah daya... pada akhirnya, terucap pula kata itu dari bibir suamiku "kita cerai saja!". Hanya karena sebuah masalah kecil yang tanpa sengaja menjadi besar.

Saat itu seperti kudengar suara petir menggelegar di kepalaku. Arsy pun berguncang untuk ke sekian kalinya. Dan hatiku hancur berkeping-keping. Aku menjadi wanita paling pilu sedunia. Tak ada yang kupikirkan selain... yah kita memang harus berpisah!

Kuingat kembali pertengkaran-pertengkaran kami sebelumnya... Kita memang sudah nggak cocok! Kupikirkan kesalahan-kesalahan apa yang telah aku lakukan namun lebih sering mengingat kesalahan-kesalahan suamiku.Aku menangis sejadi-jadinya hingga dadaku sesak dan airmataku kering. Hari itu menjadi hari paling menyedihkan dalam hidupku.
Tak kulihat suamiku di sampingku keesokan paginya. Entah kemana ia. Tanpa sadar aku, layaknya aktris berakting di sinetron-sinetron, memandangi foto-foto kami dulu dengan berlinang airmata. Ngiris hati ini. Andai saja ada lagu Goodbye dari Air Supply yang mengiringiku, tentu semuanya menjadi scene yang sempurna.

Sekilas kenangan lama bermunculan di benakku. Aku teringat pertama kali aku bertemu suamiku, teringat apa yang aku rasakan saat ia melamarku. Aku tersenyum kecil hingga akhirnya tertawa saat mengingat malam pertamaku. Ha ha ha.

Anak-anakku datang saat melihat ibu mereka ini tertawa, memelukku tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Mereka masih kecil-kecil. Kupandangi mereka satu per satu.... Mereka mirip ayahnya. Aku jadi teringat saat pertama kali kukatakan padanya bahwa ia akan menjadi ayah.Hhmmm...Ku lalui hari-hari penuh kekhawatiran bersamanya, menunggu kelahiran buah cinta kami. Dengan penuh kasih sayang, suamiku memegang tanganku, mencoba menenangkanku saat sang khalifah baru lahir, walaupun kutahu ia hampir saja pingsan. Keningku diciumnya saat semuanya berakhir walaupun wajahku penuh keringat saat itu. Saat kubuka mataku, di sampingku ia duduk menggendong bayi mungil itu. Bersamanya, kubeli tiket ke surga...

"Mi, abi mana?" suara anakku mengejutkan lamunanku. Tak sanggup kumenjawabnya. Hampir saja aku menangis lagi.Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan dari balik dinding. Suamiku datang. Rupanya tadi malam ia tidur di masjid. Ia melihatku bersama anak-anakku. Mereka berhamburan menyambut yahnya, memeluk lututnya karena mereka belum cukup tinggi menggapai bahu ayahnya itu. Ia membawakan makanan untuk mereka.
Saat anak-anak sibuk dengan makanan itu, ia menghampiriku. Aku mencoba untuk biasa dan kuajak ia melihat foto-foto lama kami. Bernostalgia. Aku tertawa bersamanya. Mengingat yang telah lewat.Sesekali ia memandangku lembut. Aku tahu ia sedang berfikir. Namun aku khawatir ia sedang meyakinkan hatinya untuk benar-benar menceraikan aku dan mengatur kata-kata agar aku dapat menerima keputusannya.

Saat ia diam dan memandangku dalam-dalam, kukatakan padanya bahwa aku merindukannya sejak tadi malam. Ia tersenyum dan mengatakan bahwa ia pun merasakan hal yang sama.Hatiku lega. Kututup album foto itu dan kukatakan padanya bahwa selain dari semua kekuranganku tentu ada kelebihanku, selain dari semua yang tidak disukainya tentu ada yang disukainya, selain dari semua ketidakcocokan kita tentu ada bagian yang cocok. "Bila tidak, apaalasan Abang mau menikahi Dinda dulu? Dan .. bagaimana mungkin kita bisa bertahan selama ini?"

Ia mencium keningku. Kurasakan air mata mengalir hangat di pipiku. Tapi bukan air mataku...
"Allah memang hanya menciptakan Dinda buat Abang... Maafin Abang ya..."
Kuusap air mata dari pipinya dan ia membaringkan kepalanya dipangkuanku...
"Maafin Dinda juga ya, Bang..."

Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Aku tak ingin menanyakannya. Hanya dengan berada di sisiku pagi itu, aku rasa aku tahu jawabannya... "Princess LL"
Pernikahan itu bisa berumur panjang bila ada usaha untuk memanjangkannya dan bisa berumur pendek bila tidak ada yang mau berfikir panjang.

(Untuk pangeranku, aku ingin beranjak tua bersamamu... atas izin Allah)

Arti kehadiran seorang ibu

dari ummi online
Senin, 17 Januari 05 - oleh : Nurhayati Subakat *

Setelah bekerja beberapa lama di sebuah perusahaan kosmetika, akhirnya saya memutuskan untuk mengembangkan usaha di rumah. Motivasi terkuat karena saya melihat ketiga anak saya sangat membutuhkan kehadiran saya di rumah. Belasan tahun lalu, anak kedua saya yang saat itu masih duduk di bangku SD menanyakan mengapa saya masih bekerja di luar untuk mencari uang. “Apakah uang dari Bapak tidak cukup?” tanyanya. Saya menjelaskan bahwa bapak bisa mencukupi semua keperluan keluarga. Namun, uang yang saya dapat dengan bekerja bisa digunakan untuk membantu orang lain. Iapun berujar,”Tetangga kita yang rumahnya ‘pendek’ saja ibunya tidak bekerja.” Anak saya menyebut rumah ‘pendek’ lantaran rumah tetangga kami tidak bertingkat seperti kami. Kehidupan kami saat itu memang sudah cukup mapan.

Percakapan itu terus membekas dalam benak saya. Agaknya kehadiran saya sangat penting untuk mereka. Saya kemudian menyadari bahwa yang pertama kali dicari seorang anak ketika pulang dari sekolah atau bermain adalah ibunya. Keberadaan seorang ibu di rumah membuat anak-anak merasa nyaman dan aman. Mereka merasa terlindungi dan selalu merasa ada sosok tempat mereka bisa berlari menceritakan hari-hari mereka dan segala keluh kesah setiap saat. Perasaan ini tak mereka dapatkan bila sang ibu bekerja di luar.

Akhirnya dengan sadar saya memutuskan untuk berhenti bekerja di luar. Waktu saya adalah untuk mendampingi anak-anak. Selain mengurus rumah tangga, saya merasa banyak waktu luang. Saya bukan tipe orang yang suka santai. Dari situ timbullah ide untuk menjalankan bisnis yang bisa dijalankan dari rumah. Pengetahuan yang saya dapat dari bangku kuliah dan juga pengalaman bekerja sebelumnya merupakan modal untuk mengembangkan usaha ini. Dengan keseriusan dan keinginan untuk maju, usaha saya berkembang pesat sampai seperti sekarang ini. Berawal dari usaha yang saya jalankan bersama seorang pembantu, sekarang ada ratusan orang yang bekerja di sini.
Alhamdulillah. Betapa saya mensyukuri semua itu. Dengan menjalankan bisnis dari rumah, saya bisa terus bersama anak-anak. Ketika ada sesuatu hal yang ingin mereka ungkapkan, mereka tinggal menemui saya di meja kerja saya di sudut rumah. Ketika saya harus pergi keluar, dalam rangka usaha ini juga, saya usahakan untuk pergi setelah anak-anak berangkat sekolah dan kembali sebelum anak-anak pulang. Jadi, saya selalu ada untuk mereka. Dalam mendidik anak, saya merasa tak harus banyak memberi nasehat. Yang penting adalah contoh orangtua pada anak-anaknya. Kalau kita hidup sesuai dengan ajaran agama, otomatis anak itu akan meniru. Alhamdulillah, prestasi mereka juga sangat bagus. Ketiganya masuk sekolah unggulan di Jakarta, begitupun saat kuliah. Pergaulan mereka tak sampai menyeret mereka pada penggunaan narkoba. Sungguh, saya kuatir ini menimpa anak-anak saya. Alhamdulillah, mereka mampu melampaui semua godaan itu dengan baik.

Sekarang dua anak saya telah berkeluarga, sementara si bungsu masih kuliah. Sayapun sudah jadi seorang nenek dari seorang cucu. Dan saya tetap berkarya dari rumah. Bagi perempuan, usaha rumahan ini sangat cocok. Karena dengan itu, ia mampu mengatur waktu antara mengurus rumah tangga dan usaha. Selain itu, saya pikir, sekecil apapun, perempuan itu harus punya usaha. Kalau sesuatu terjadi pada suami, kita tak akan terlunta-lunta lantaran tak punya sumber penghasilan.

* Pengusaha Kosmetika Wardah dan Zahra, Ketua Alisa Khadijah DKI Jakarta

Sedekah Tak Mengurangi Harta

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
" Setiap pagi datang dua malaikat untuk setiap hamba, maka yang satu berdoa : "Ya Allah, gantilah orang yang menafkahkan hartanya", dan yang lain berdoa : "Ya Allah, binasakanlah harta orang yang kikir." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
" Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah pasti akan menambah kemuliaan seseorang yang suka memaafkan. Dan seseorang yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah yang Maha Mula lagi Maha Agung akan mengangkat derajatnya." (Hadits Riwayat Muslim)

Wednesday, August 24, 2005

Jangan Selingkuh ... itu menyakitkan istri

Saat Cinta berpaling Darimu
dari buku: Pengalaman sejati seorang istri (Asma Nadia)
***

Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa gaji suaminya yang masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan?
Apakah dia putus asa ketika mereka harus berpindah-pindah kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain?
Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbulan-bulan hanya makan tempe dan sayur, yang masing-masing dibeli seribu rupiah di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama?

Jawabannya tidak.

Perempuan berwajah manis, yang saya kenal itu sebaliknya selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang menerpa keluarga kecil mereka, tak berarti apa-apa.
Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. Menjelang kelahiran anak pertama mereka, suami masih belum memiliki pekerjaan yang mapan. Tapi perempuan itu tidak putus asa. Sedikitpun dia tak menyesali telah menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia cintai karena kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia hormati, yang dia tahu selalu berupaya sungguh-sungguh untuk membahagiakan, dan membuatnya merasa seperti seorang putri.

Dan kenyataan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan yang nyaris mau runtuh, dengan kamar mandi jelek, dan serangga di mana-mana yang kerap membuat menimbulkan ruam merah pada kulitnya yang putih. Perempuan itu tidak pernah sedikitpun mengeluh.
Lalu anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris bertaut. Dia dan suami menerima kehadiran pangeran kecil itu dengan hati berbunga. Meski mereka harus berhutang ke sana ke mari agar biaya kelahiran yang melalui prosedur caesar itu, bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan itu tidak pernah mengeluh.
Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada yang kuasa, dari waktu ke waktu.
Ketika anak kedua mereka lahir, roda ekonomi keluarga telah jauh lebih baik. Laki-laki yang dicintainya mendapatkan pekerjaan yang mapan. Mereka tak lagi bingung memikirkan kebutuhan sehari-hari, makan, lalu susu buat anak-anak.

Perempuan yang saya kenal sejak lama itu, membantu suaminya dengan bekerja paruh waktu bagi sebuah taman bermain anak-anak yang cukup prestise. Seiring kehidupan yang mulai membaik, perempuan itu tak lagi mengerjakan semua sendiri. Apalagi seorang buah hati lagi telah hadir.

Sang suami memintanya lebih konsen kepada pekerjaan paruh waktu yang digeluti istrinya. Tahun ke empat pernikahan mereka mulai menyewa baby sitter, ketika itu si bungsu belum lagi berusia sepuluh bulan.
Lalu datanglah kesempatan bagi sang istri. Lembaga tempat dia bekerja paruh waktu, menawarkan program training ke luar negeri. Awalnya sang istri ragu, sebab dia khawatir meninggalkan anak-anak selama dua pekan. Tetapi lelaki yang dicintainya memberikan support dan mendorongnya untuk pergi,
"Ini pengalaman bagus buat Ibu," kata lelaki itu.
Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan kepalanya,
"Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Ibu harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang menjaga anak-anak."
Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan keluarganya. Selama dua pekan di sana dilaluinya dengan rindu yang menyiksa, dan perasan berat karena selalu terbayang anak-anak.
Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. Meskipun sang suami selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dan perasaannya benar.
Anak bungsu mereka dirawat di rumah sakit karena demam berdarah! Suaminya yang takut membuatnya panik baru menjelaskan ketika istrinya pulang ke tanah air.

"Maafkan ayah, ayah takut ibu bingung."
Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik Tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya, hal yang membuat jantungnya luruh.
Suaminya jatuh cinta.
Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu mertuanya menangis tersedu-sedu menjelaskan apa yang terjadi.

Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh. Apalagi ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya jatuh hati, adalah baby sitter yang mereka sewa.

Mereka hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.
Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. Harapan-harapan yang dibangunnya seakan menguap.
Suaminya berpaling. Lelaki yang telah membuatnya merasa seperti seorang putri, jatuh cinta lagi.
Allah... apa maksudmu dengan ini semua? Batin sang istri yang terkoyak. Dengan hati hempas, dia memanggil baby sitter mereka. Baru kali ini si perempuan memandang lekat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu.

Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. Kulitnya bersih, rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu tak dikiranya kecantikan lugu itu akan memorakmorandakan rumah tangga mereka.
Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang tertunduk salah tingkah.
"Sudah sejauh apa?'
Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.
"Apakah kamu menyukai Bapak?"
Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.
"Saya tak keberatan jika bapak menyukaimu, dan kamu menyukai bapak, Kalian bisa menikah!"
Saya kaget. Saya berada di sana, menemani perempuan yang telah lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya mengejutkan saya.

Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah. Saat itu suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga mereka leluasa berbicara. Tidak jauh dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis sesenggukan. Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.
Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua. Sahabat saya menangis. Belum pernah saya melihat air mata sebanyak itu tumpah di wajahnya.

"Saya sedih," bisiknya, "Salahkah?"
Saya menggeleng. Kesedihan adalah teman kemanusiaan. Tak apa.
"Ibu tadi cerita, bahkan ketika Andin sakit, Ayahnya memilih menemani perempuan itu berobat, meski hanya flu biasa, dan meninggalkan Andin diperiksa hanya dengan ibu,"
Ah, lelaki begitu mudahkah larut dalam pesona?
Saya kehilangan kata-kata. Percuma mengibur, apalagi berkata saya mengerti perasaannya. Saya tak ingin berbasa basi yang tidak perlu.
Kehidupan berlanjut. Suami perempuan itu mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi. Lelaki itu memohon-mohon agar sang istri mau memaafkannya.
"Bisakah?" tanya saya suatu hari. Ketika itu tahun-tahun sudah berlalu begitu banyak.
"Saya tidak tahu," jawab sahabat saya.
Selalu dan selalu, matanya yang cerah meredup setiap teringat kisah itu. Barangkali memang ada beberapa luka yang tak bisa sembuh, bahkan oleh waktu.
Enam bulan setelah kejadian itu, sahabat saya memang sempat bercerita perasaannya setiap kali suaminya mendekati,
"Saya merasa jijik," ujarnya dengan wajah bersalah.
"Tak apa, semua perlu waktu. Lagian yang terjadi tidak sejauh itu. Jangan menyiksa pikiran,"
"Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Saya diam. Sahabat saya benar. Hanya suaminya dan si baby sitter yang tahu segala. Mereka terkadang pergi ke luar rumah berdua. Dulu terasa biasa saja mereka hanya ke warung, atau apotik. Entahlah.
Ketika saya meminta izin menuliskan cerita ini, sahabat saya mengiyakan, meski dia masih belum lagi sembuh dari kesedihan. Memang tidak ada perceraian. Sang suami tampak bersungguh-sungguh menjaga keutuhan keluarga mereka. Apalagi ada anak-anak diantara keduanya.
"Dia bapak yang baik!" papar sahabat saya suatu hari.
Kehidupan memang terus berjalan. Satu peristiwa, satu hati yang berdarah. Satu hati yang belum juga sembuh.
"Kami masih tidak bisa bersama," jelasnya.
Saya mengerti. Peristiwa itu seolah membekukan semua kehangatan dan keceriaannya sebagai seorang istri. Sang suami tak memaksa. Menjalani saja kehidupan apa adanya. Anak-anak lebih penting.

Entah sampai kapan mereka bisa bertahan, saya tidak tahu. Tak juga mau menduga-duga.
Saya cukup senang akhirnya sahabat saya bisa mendapatkan kepercayaan diri yang sempat hancur ketika menyadari sosok perempuan yang telah merebut hati suaminya, tak hanya lebih cantik tapi juga jauh lebih muda. Perlahan sahabat saya mencoba melupakan apa yang terjadi. Padahal dunia sempat terasa berhenti baginya.

"Sampai saya sadar, Asma. Di luar sana, banyak pengalaman yang jauh lebih buruk, menimpa istri-istri lain. Apa yang terjadi pada saya, barangkali tak seujung kuku yang dialami perempuan-perempuan lain."
Hubungan normal layaknya suami istri memang sudah patah, akan sulit merekatkannya kembali. Tapi saya mengagumi semangatnya mempertahankan pernikahan, dan tetap menjalaninya penuh syukur. Perempuan itu bahkan pasrah jika karena ketidakmampuannya sekarang, dikarenakan ulah sang suami, mungkin justru mengakibatkan sang suami menikah di belakangnya.

"Dulu hal itu perkara besar buat saya, tapi sekarang..." sahabat saya itu tertawa.
Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan padanya. Apakah dia bahagia? Apakah suaminya bahagia? Kenapa tidak bercerai dan sama-sama memulai yang baru? Sebagian orang mungkin akan berpikir begitu. Hidup terlalu singkat untuk larut dalam ketidakbahagiaan.
Betapapun saya menghormati komitmen keduanya. Juga perkataan sahabat saya, yang akan selalu saya ingat,
"Ada hati-hati kecil yang harus dijaga, Asma. Setiap mengingat mereka, maka luka-luka lain menjadi kalah penting. Kebahagiaan saya sempat runtuh, tapi kebahagiaan ketiga anak saya tidak. Dan saya harus bisa menjaganya. Sekuat saya."

Mawar Merah... Subhanallah !!











Gambar ini berhasil diambil oleh Hubble Space Telescope NASA pada tanggal 31 Oktober 1999, sebuah bintang berjarak 3000 tahun cahaya dalam proses hancurnya.Kita melihatnya kini apa yang telah diucapkan 1400 tahun yang lalu oleh Muhammad SAW, firman Allah dalam Al-Quran :"Maka apabila langit terbelah dan menjadi MAWAR MERAH seperti (kilapan) minyak. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?(Al Qur'an, Surah Ar Rahman(55) : 37 - 38).
Gambar diambil dari situs NASA, Astronomy Picture of the Day

Subhanallah, Maha Suci Allah dan sungguh benar Muhammad adalah Rasul-Mu!. Sungguh benarlah firman-Mu :" Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru langit dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?". (AL Qur'an, Surah Al Fushshilat 53)

Tuesday, August 16, 2005

Untuk jadi muslimah yang cantik







Agar wajah selalu segar, berseri-seri, dan cantik, cucilah minimal 5 kali sehari yaitu dengan air wudhu. Jangan langsung dikeringkan oleh handuk, biarkan menetes dan kering sendiri. Lalu ambillah sajadah, shalat, berdikir, berdoa.

Untuk menghilangkan stress, salah satu penyebab kerut di wajah, perbanyaklah 'olah raga'. Jika tidak ada waktu untuk pergi ke studio fitness, spot-gym, dll, cukup dengan memperbanyak sholat. Dengan sholat berarti kita menggerakan seluruh tubuh. Konsultasikan semua keluh kesah kita pada Zat Yang Maha Tahu - Allah SWT dengan dzikir dan doa.

Untuk pelembab, agar awet muda, gunakanlah senyum. Tidak hanya di bibir tapi di hati juga. Katakan pada diri sendiri anda adalah cantik dan tidak memerlukan segala macam operasi plastik. Tidak lupa membisikan 'kata kunci' "Allahuma kamma hassanta khalgii fahassin khulqii" "Ya Allah sebagaimana engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pula ahlaq ku" (HR Ahmad).

Untuk mendapatkan bibir cantik, bisikan kalimat-kalimat Allah, tidak berkata bohong, atau menyakiti hati orang lain, tidak dipakai menyombongkan diri atau takabur.

Agar tubuh langsing, singset dan mulus, lakukan diet yang teratur yaitu dengan berpuasa seminggu 2 kali, Senin dan Kamis. Jika kuat, lebih bagus lagi berpuasa seperti nabi Daud AS. Makanlah makanan halal, perbanyak sayuran, buah-buahan, air putih.

Untuk mengembangkan diri, sebarkan salam dan sapaan. Dengan demikian kita akan banyak dikenal dan disayangi. Insya Allah.........

Wednesday, August 03, 2005

Cinta mati seorang Oma Teppy

Majalah FORUM edisi 14 Juli 2005

Seorang perempuan split personality berhasil menipu sedikitnya lima orang perempuan mapan di Jakarta. Beberapa di antaranya bahkan telah berhubungan kasih. Namanya Bhima Suryo Harya Hidayat. Tanggal 18 Mei lalu, ia genap 30 tahun. Berprofesi sebagai pengusaha muda, ia memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang graphic design di kawasan Jalan Jenderal Soedirman, Jakarta Selatan. Bhima termasuk pria yang beruntung dalam kehidupan. Dengan dukungan penuh dari orangtuanya, selepas SMA pada tahun 1992, ia melanjutkan pendidikan di Pasadena, Amerika Serikat,mengambil jurusan Industrial Design Majoring in Products dan Graphic Design.

Di negeri Paman Sam ini, katanya, ia tak betah dengan junk food Amerika.Semester dua, Bhima nekad pindah ke Frankfurt, Jerman, dan mengambil jurusan yang sama. Bhima diwisuda tahun 1997 dan pulang ke tanah air dua tahun kemudian. Di Jakarta, ia mendirikan perusahaan bersama karibnya semasa SMP. Bhima memang akrab dengan kehidupan metropolitan. Tapi, lelaki ini mempunyai hobby yang lumayan unik untuk pemuda seusianya. Dia pendengar radio yang maniak. Salah satu stasiun radio yang paling ia gemari adalah Delta FM, sebuah radio jaringan swasta nasional yang berkantor di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

Saking ngefans-nya, lelaki ini tak segan mengirim aneka makanan ke stasiun radio yang berkantor di kawasan Sudirman, Jakata Selatan itu. Mulai es krim hingga dimsum. Juga parfum. Bhima pun sempat memberikan voucher ponsel bernilai besar ketika anak salah seorang penyiar radio tersebut berulang tahun. Bhima yang sibuk menahkodai perusahaan branding ternyata juga aktif dalam mailing list (milis) idakrisnashow, salah satu acara favoritnya di Radio Delta. Dari milis inilah Bhima mempunyai banyak teman, salah satunya Wita, perempuan 30 tahun, berprofesi sebagai jurnalis di sebuah majalah berita mingguan.

Suatu ketika, Bhima teramat berang karena keanggotaannya dalam milis idakrisnashow terblokir. Bhima pun bertanya kepada Wita mengapa ini bisa terjadi. Wita memberikan penjelasan tentang kemungkinan-kemungkinan terblokirnya anggota dalam sebuah milis. Bhima tidak puas dengan jawaban itu. Melalui seorang perempuan yang juga ia kenal dalam milis, Bhima menyebarkan surat elektronik. Dengan keras ia mempertanyakan tersingkirnya dirinya dari milis. Kebetulan, moderator sekaligus pemilik milis idakrisnashow adalah Ida Arimurti. Alhasil, Ida pun dihujat habis-habisan dalam milis yang ia komandoi sendiri. Itu terjadi akhir Juni.

Ahad, 3 Juli, Ida menghubungi Wita melalui ponsel. Dalam pembicaraan dengan Wita, Ida mengatakan ada sesuatu yang terjadi dalam diri Bhima. Dua hari kemudian, Ida menyambungkan Wita dengan Felecia, mantan penyiar Radio Delta FM yang kini bekerja di sebuah radio milik pemerintah. Dari komunikasi Wita dengan Felecia itulah semua kebohongan Bhima terbongkar. Meski telah berjanji akan menikahi Felecia, ternyata Bhima mempunyai affair dengan beberapa penyiar Delta yang lain. Namun, yang lebih mengejutkan, ternyata Bhima adalah seorang perempuan berusia 64 tahun dengan nama Sylvia Ethe!

Hubungan Felecia dengan Bhima bermula saat perempuan 37 tahun ini masih bekerja sebagai penyiar di Radio Delta FM Jakarta. Kali pertama berkenalan dengan Felecia, Bhima mengaku bernama Miguel. Dalam pesan pendeknya (SMS) ke Delta, Miguel mengatakan sangat senang mendengar suara Felecia. Itu terjadi Desember 2003. Sejak saat itu, SMS dari Miguel pun bertubi-tubi masuk. Maret 2004, Felecia untuk pertama kali membalas SMS tersebut. Dari perkenalan itulah Miguel dan Felecia menjadi kian akrab. Pada suatu titik, keduanya sepakat menikah. Namun, karena perbedaan agama - Felecia seorang muslim, Miguel beragama Katolik - untuk sementara keduanya tidak
bertemu hingga ada lampu hijau dari orangtua Miguel bagi pernikahan mereka. Alhasil, mereka pun berhubungan kasih tanpa pernah bertemu muka sama sekali.

Kepada Felecia, Miguel memerankan sosok laki-laki setia, bijaksana, dewasa, menghargai perempuan, dan tidak suka affair . Dia juga mencitrakan dirinya sebagai pemuda pekerja keras. Sejak menjalin hubugan dengan Felecia, Miguel berjanji hanya mencurahkan waktu dan tenaganya untuk Felecia dan perusaahaan.Dia bisa menceriterakan semua secara sempurna,kata Felecia. Untuk meyakinkan pasangannya, Miguel mengirim cincin emas kepada Felecia sebagai pengikat cinta mereka. Bahkan, Miguel juga mengirim foto sebuah mobil mercy seri terbaru berplat nomor tanggal ulang tahun mereka berdua, 1718. Hingga 6 Juni lalu, hubungan keduanya masih berjalan mulus. Namun, ketika Felecia browsing di internet untuk mencari materi siaran tentang artis Monica Oemardi yang akan ia wawancarai, kebohongan mulai Miguel terbongkar. Felecia begitu terkesiap ketika melihat gambar-gambar di halaman website Monica Oemardi terdapat foto Miguel, kekasihnya. Dalam foto itu tertulis nama Michael Andrew Suryo Prabowo Hamidjojo. Michael adalah mantan suami pertama Monica Oemardi. Kini Michael tinggal di Brunai Darussalam. Di halaman website itu juga terpampang foto Joshua, anak Monica dengan Michael, yang oleh kekasih Felecia diaku sebagai foto masa kecilnya.

Saat itulah Felecia muntab. Hari itu juga ia melakukan investigasi ke keluarga Hamidjoyo melalui keluarga Hester, pemilik wisata alam di kawasan Cinangneg, Bogor, dan guest house di Cilandak, Jakarta Selatan. Kebetulan, Felecia pernah mewawancarai Hester tentang tempat wisata alam ketika ia masih bekerja di Radio Delta. Pikiran Felecia terantuk ke Rina - bukan nama sebenarnya - putri Hester. Karena, ucap Felecia, dalam setiap kesempatan Miguel selalu bercerita tentang Rina, bahkan hingga pernik-pernik kehidupan rumah tangga Rina. Tembakan Felecia tepat. Dari Rina-lah kedok Miguel terbongkar.

Rabu malam, 8 Juni, usai mendapat telepon Felecia, Rina mendatangi ibunya dan mencocokkan semua informasi yang ia dapat dari Felecia tentang Miguel. Semula, ibu dan anak itu sempat heran mengapa hal-hal terkecil dalam keluaganya bisa diketahui Miguel. Juga silsilah keluarga besar mereka. Pikiran Hester pun segera mengarah pada
Sylvia Ethe, satu-satunya orang yang selama ini sering ia ajak ngobrol tentang masalah keluarga mereka. Sylvia Ethe yang biasa mereka panggil Oma Tippy adalah karyawan kontrak di guest house milik keluarga Hester sejak setengah tahun terakhir. Kefasihannya berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman membuat Sylvia dipercaya menjadi pemandu tamu-tamu yang kebanyakan adalah ekspatriat.

Singkat cerita, ketika mencocokkan dua nomor telepon seluler milik Miguel alias Bhima Suryo Harya Hidayat alias Bhima Aditya Putra Hidayat dengan milik Sylvia, ternyata sama persis. Hester segera menelepon Felecia. Mendengar penjelasan Hester, Felecia benar-benar shocked & Badan saya tiba-tiba lemas; kenang Felecia. Sejak saat itu, secara bergerilya, Felicia menghubungi alamat-alamat yang pernah disebut `kekasihnya', Bhima. Termasuk branding company di kawasan Landmark Building, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Juga rekanan bisnis Bhima yang berada di kawasan Palm Hill, Cibubur. Hasilnya nol besar. Semua yang dikatakan Bhima fiktif!

Felicia juga melacak tempat mencetak foto-foto yang selama ini ia terima dari Bhima. Di balik semua lembaran foto itu tertulis Photo Studio Adorama, Kemang, Jakarta Selatan. Dari karyawan studio foto itu Felicia mendapat informasi, Sylvia memang langganan mencetak foto di sana. Bhima, menurut Felecia, ternyata juga mulai mengincar Tina Zakaria, penyiar Radio One, radio dengan segmentasi pendengar laki-laki metropolitan Jakarta. Khawatir muncul korban lebih banyak, Felecia menghubungi Tina untuk tidak terpedaya dengan Miguel. Beruntung, Tina mahfum dan mulai selektif dengan kiriman pesan pendek Miguel.

Sadar dengan bahaya yang ditebarkan Bhima, Felicia menghubungi Krisna Purwana, dan Awan, sahabatnya di radio Delta. Melalui Awan, Felicia masuk dalam milis idakrisnashow yang di dalamnya telah ada Bhima. Hanya satu yang saya ingin, agar korban Bhima tidak bertambah,kata Felicia kepada FORUM. Sebab, lanjut Felecia, ada beberapa rekan seprofesinya yang menjadi korban Bhima, dan saat ini belum sadar.
Krisna menyampaikan pesan Felicia kepada Ida Arimurti, partner siaran Krisna di acara Ida-Krisna Show. Melalui Ida, Felicia berkomunikasi dengan Wita. Dalam pembicaraan singkat itu, keduanya sepakat menangkap basah Sylvia di kantornya pada Kamis pagi, 8 Juli.

Waktu yang ditentukan telah tiba. Felicia, Wita, dan dua orang anggota reserse Polda Metro Jaya sampai di kantor Sylvia tepat pukul 8 pagi. Sebelum berangkat, Felicia sengaja membangunkan Bhima, memastikan kekasihnya' benar-benar berangkat kerja. Setelah menunggu beberapa saat, sebuah taksi berwarna biru berhenti di depan kantor milik keluarga Hester tersebut. Sylvia pun turun. Sejurus kemudian, dua anggota reserse berpakaian preman segera menghampiri Sylvia, mengajaknya berbicara.

Sylvia yang pagi itu tampak bugar dengan kaus hitam dan celana jeans biru, marah besar. Buru-buru ia masuk ruang kerja dengan membanting pintu. Saat itulah, Felicia mendapat SMS dari Bhima yang berbunyi Mengapa kamu mengirim orang untuk mengganggu Sylvia? Felecia tidak menjawab. Beruntung, Hester segera datang menenangkan suasana. Hester mengajak Felecia, Wita, dan seorang anggota reserse masuk ruang kerja Sylvia. Mereka gila! ucap Syilvia dengan nada tegang. Dalam pembicaraan selama hampir dua jam, Sylvia tak banyak berkata.

Dari suara, logat bicara, cara marah Anda, semua persis milik Bhima,kata Wita kepada Sylvia kala itu. Namun, ketika Hester bertanya siapa sesungguhnya Bhima, Sylvia menjawab Bhima adalah keponakannya. Setengah jam kemudian Hester bertanya lagi siapa sesungguhnya Bhima, dalam bahasa Belanda Sylvia menjawab, Bhima adalah anak baptisnya. Suasana bertambah tegang ketika Sylvia mengeluarkan sebilah pisau dan dia kian tidak konsisten dengan ucapannya. Nenek 64 tahun itu menolak saat Hester meminta menghubungi Bhima. Bhima sedang dalam perjalanan ke Jerman,kata Sylvia. Namun, kalimat itu ditepis Felecia dengan alasan ia masih menelepon Bhima dua jam lalu di rumahnya, Kemang. Bhima sedang di bandara,tangkis Sylvia mementahkan jawabannya sendiri. Felicia pun mengambil insiatif mencocokkan nomor ponsel Sylvia dengan nomor Bhima yang mereka simpan. Lagi-lagi Sylvia menolak dan mematikan ponselnya. Hester kian gemas dengan ulah Sylvia. Namun, karena suasana yang tidak mendukung, Hester menyudahi pembicaraan itu. Bila benar Bhima anak baptis kamu, segera selesaikan urusan ini dengan Bhima. Karena Bhima terlibat urusan kriminal, selamanya kamu juga akan terlibat dalam urusan ini,kata Hester. Siang pun berlalu.
Sylvia pergi meninggalkan kantor dengan sebuah pesan kepada Hester dalam bahasa Belanda pada secarik kertas. Saya akan segera membereskan masalah ini. Sejak saat itu, hingga berita ini ditulis, Sylvia tidak masuk kerja. Akan halnya dengan Felicia, sejak hari `penggerebegan' itu terjadi, ia selalu mendapat SMS teror dari beberapa nomor ponsel yang tak ia kenal. Salah satu pesan itu berbunyi: Anda sudah gila dan matang utk masuk Grogol dgn menyangka bhwa saya Ibu Sylvia. Saya yang akan membereskan Anda.

Station Manager Delta FM Fitri Didi mengatakan sangat prihatin dengan kejadian ini. Ia sadar, karena radio adalah milik publik, pihaknya tidak bisa membatasi penikmat siaran Radio Delta. Pula halnya dengan keanggotaan mailing list yang mereka sediakan. Kami terbuka kepada siapa saja. Apalagi segmentasi kami adalah pendengar usia 30 tahun ke atas yang notabene telah dewasa, matang, dan mapan,ungkap Fitri. Fenomena pendengar yang terlalu fanatik dengan penyiar sebenarnya bukan asing bagi Delta. Bahkan, kata Fitri, kantornya pernah kebanjiran kiriman makanan dan bunga dari pendengar. Tapi kasus aneh seperti Bhima baru terjadi sekali ini di radio kami. Untuk itu, ke depan pihaknya akan lebih antisipatif agar kejadian serupa tak terulang. Kasus penipuan yang menimpa Felecia, menurut kriminolog Universitas Indonesia, Erlangga Masdiana, bisa dijadikan delik aduan kepada pihak berwajib. Selama ada yang dirugikan, bisa dikategorikan kriminal,tegas Erlangga. Erlangga mengatakan,penipuan bisa terjadi bila ada unsur kerugian materi maupun nonmateri dari pihak lain.

Peniruan suara seperti yang dilakukan oleh Sylvia Ethe bisa diklasifikasikan sebagai kejahatan nonmateri. Perasaan tertohok, dikhianati, sudah masuk kriminologi. Itu dipidanakan dengan pasal penipuan. Hanya, kasus Sylvia Ethe yang mengalami split personality dalam ilmu kriminologi termasuk kategori penyimpangan. Dan, orang yang mengalami mental disorder tidak bisa dipidanakan. Karena tidak punya bukti material, tegas Erlangga.

Sartono Mukadis, Psikolog

Empat Jiwa dalam Tubuh Sylvia

Dalam kacamata psikolog Sartono Mukadis, Sylvia Ethe alias Miguel alias Bhima mengalami split personality (kepribadian terbelah). Menurut Sartono, setidaknya ada empat personality dalam jiwa Sylvia. Sylvia mengalami split, antara kepribadian satu dengan yang lain tidak saling mengenal. Kalau sudah demikian, disumpah pun dia mau,kata Sartono kepada FORUM, Kamis pekan lalu.

Menurut Sartono, kasus yang dialami Sylvia adalah kasus besar dan sangat menarik dari sisi psikologi.Menarik karena kebanyakan split personal terjadi dalam masyarakat yang secara ras lebih sophisticated daripada Melayu,katanya. Sylvia, menurut Sartono, adalah manusia yang sangat tidak bahagia dengan dirinya. Dia cerdik, pandai, dan menyukai orang-orang yang terkenal, seperti penyiar radio dan sejenisnya. Sylvia mengalami ambiguitas dalam dirinya. Dalam ilmu psikologi disebut fixtasi. Dia mengalami fixtasi pada salah satu fase dalam hidupnya meskipun usianya telah lewat. Sebelum mengincar `mangsa', dia akan mempelajari orang tersebut dengan teliti. Dia akan masuk dari banyak sisi, memberi nasihat dan sebagainya. Dia mampu mencampur aduk antara kebenaran dan kebohongan. Ini benar-benar satu usaha yang sangat terencana dan sitematis. Meski menyukai sesama perempuan, Silvia tidak bisa dikategorikan sebagai lesbian. Dia bukan sekedar mencari kepuasan seks, tapi dia adalah perempuan yang tidak pernah menampilkannya secara fisik. Dia hanya `memainkan' peran sebagai lesbian dengan mewujudkan dirinya sebagai Miguel dan Bhima,urai Sartono. Itulah mengapa Sartono menyebut split personality sebagai kegilaan tingkat tinggi. Bagaimana menyembuhkannya? Satu-satunya cara menyembuhkan ya masuk assylum (Rumah Sakit Jiwa-red), kata Sartono.

Monday, July 25, 2005

Jilbab Idaman

Received this nice email di saat hati lagi bimbang mutusin mau pake jilbab apa engga (sekitar pertengahan 2003), forward-an dari teman kantor. Thanks ya Widya untuk email-nya. Jadi mantep dalam memutuskan pilihan.
*****

Baru-baru ini Depart. Keputrian FSI (Forum Studi Islam) di FKUI mengadakan lomba cerpen/ fragmen/puisi/tulisan seputar jilbab. Pemenang juara I adalah Putri Dianita Ika,mahasiswi FKUI angkatan 2000. Simak deh naskah yang ditulisnya :

JILBAB IDAMAN

Aku mencari sebuah jilbab...yang melindungiku...yang menjadi perisaiku dalam menghadapi dunia...yang tidak membatasi gerak langkahkutapi membuatku bebas berkelana menjelajahi belantara..

Aku mencari jilbab...yang men"jilbab"-i jiwa dan hatiku yang tidak sekedar menyelimuti tubuhku

Aku mencari jilbab...yang memberiku identitas sebagai muslimahsebagai akhwat yang menjaga auratnyabagaikan perhiasannya yang paaaaaaling berharga..

Aku mencari jilbab...yang dapat memperingatkanku bila hendak berbuat maksiatsehingga aku malu...sungguh malu...dan mengurungkan niat burukku...bukan jilbab yang sekedar menjadi penutup aib-aib yang telah kulakukan di masa lalu..

Aku mencari jilbab...yang selain bisa menjadi payungku di segala cuacajuga dapat menjauhkanku dari... PANASNYA API NERAKA!!

Aku mencari jilbab...yang membuatku disayang Allah karena mengenakannya
Aku tidak mencari jilbab sekedar karena trend karena disuruh teman atau keluarga,atau karena jilbabku membuatku tambah maniesz..

TIDAK!! AKU TIDAK BUTUH ITU!!!

Tahukah engkau di mana bisa mendapatkannya? Berapakah harganya? Apa katamu? Aku tidak perlu membelinya?Aku hanya perlu mengenakan jilbab yang telah kupunyadengan penuh keikhlasan dan kepatuhan kepada-Nya..?

Dengan niat yang suci,yang datang dari lubuk hatiku yang paling dalam? SUNGGUH??SUMPEH LO?!

Baiklah,kalau begitu. Akan kupasang jilbabku setiap pagi di depan cermin dengan mengucap: "Bismillah.." Semoga kudapatkan jilbab idamanku...Aamiin..

(alhamdulillah aku mantap mengenakan jilbab tgl.12 Januari 2003, keesokan harinya setelah aku resmi menjadi seorang istri)





"Ikuti Allah, dan serahkan semuanya pada Allah.Maka tidak ada yang bisa membuat kita terombang-ambing dalam hidup."

Kawan, pernahkah merasa seberdosa ini?

Lelah.....
Rasanya terlalu lelah untuk terus berdo'a kepada Allah.
Hari ini entah sudah kesekian kalinya aku meminta, tapi tak jua Dia mengabulkan permintaanku.

Pekan lalu, saat ku membutuhkan pertolongan Nya, Ia tak segera mengulurkan tanganNya.
Ah, jangankan yang baru-baru ini, puluhan bahkan ratusan pintaku bulan-bulan sebelumnya, juga tahun sebelumnya, kalau kuingat-ingat, belum juga terkabulkan.
Tapi, apa salahnya malam ini ku mencoba berdialog kembali dengan Nya, semoga saja ia mau mendengar. Baru saja kususun jemari ini, belum sempat baris kata-kata yang sebelumnya sudah kurangkai indah di dalam benakku deras terburai keluar dari mulutku, mataku menangkap tajam jemariku yang bergerak...

Astaghfirullaah ... seketika dadaku sesak. Berdegub kencang.

Ingin kuhapus kata-kataku diatas. Tapi sudah terlanjur tumpah. Aku malu telah lancang kepadaNya dan menihilkan semua yang telah diberikan-Nya.
Pernahkah aku meminta kepada Nya untuk memberikan kepadaku jemari yang lengkap dan indah, sehingga aku bisa banyak berbuat dengan kesempurnaan penciptaan ini?
Aku tak pernah meminta sebelumnya agar Ia melengkapi tanganku ini dengan jemari, aku juga tak pernah berdo'a untuk berbagai kesempatan hingga detik ini aku masih bisa menggerakkan, dan menyentuh dengan jemariku ini.
Harus kusentuh lagi beberapa anggota tubuh ini.

Kemudian aku berdiri, subhanallah, aku masih bisa berdiri.
Padahal aku tak pernah sebelumnya meminta agar terus ditetapkan memiliki dua kaki sempurna, tapi Dia masih terus memberikannya.

Lalu aku berjalan, Alhamdulillah aku masih bisa berjalan.
Keluar kamar, ke ruang tengah, kulihat masih terlihat sederet makanan di meja makan, kucicipi sepotong tahu. Enak, ya enak.
Tapi kenapa aku masih bisa merasakan nikmatnya sepotong tahu?
Juga segarnya menyeruput sebotol juice buah yang kuambil dalam kulkas?
Yang pasti, tak pernah barisan kata pinta terucap tuk sekedar memohon agar tetap diberikan kemampuan merasa...

Kuterus berjalan. Ke kamar mandi. Ada air.
Kusentuh segarnya air itu. aah, sejak kapan aku merasakan kesegaran ini.
Mungkinkah ketika terlahir dulu sempat aku meminta kepadaNya agar dikaruniakan kesegaran macam ini? atau ...
hhhhhh, kuhirup udara malam yang sejuk.
Eh, apa pernah aku minta Dia tak menyetop pasokan udara untukku?
Bahkan ... aku masih hidup, aku masih hiduuup (teriakku) ...
siapa yang tahu dan bisa menerka sampai kapan aku masih bisa menikmati hidup.

Tapi yang jelas tak pernah sekalipun keluar dari mulut ini rangkaian kata:
"Allah, terima kasih atas semua nikmat Mu, sampai hari ini."
Smakin kutahu
Jika pepohonan dijadikan pena
Dan laut menjadi tinta
Niscaya takkan pernah cukup
Tuk menuliskan semua nikmat-Nya

(Diambil dari artikel www.eramuslim.com)

Saturday, July 23, 2005

Profil Sahabat : Abu Hurairah

14 Zulhijjah 1421

Abu Hurairah r.a. dilahirkan 19 tahun sebelum Hijrah. Nama sebenarnya sebelum memeluk agama Islam tidaklah diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang mashyur adalah Abd Syams (Hamba Matahari).

Nama Islamnya adalah Abd al-Rahman. Beliau berasal daripada qabilah al-Dusi di Yaman. Abu Hurairah r.a. memeluk Islam pada tahun 7 Hijrah ketika Rasulullah S.A.W. berangkat menuju ke Khaibar. Ketika itu ibunya masih belum menerima Islam malah menghina Nabi. Abu Hurairah r.a. lalu bertemu Rasulullah S.A.W. dan meminta baginda berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah r.a. menemui ibunya kembali, mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Saat pulang dari Perang Khaibar, Rasulullah S.A.W. memperluas Masjid Nabawi ke arah barat dengan menambah ruang sebanyak tiga tiang lagi. Abu Hurairah r.a. turut terlibat dalam perombakan ini. Ketika dilihatnya Rasulullah S.A.W. turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya. Rasulullah S.A.W. menolak seraya bersabda, "Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat."
Abu Hurairah r.a. pernah tersilap menimbang makanan yang lezat sehingga dia dikenakan hukuman dipukul oleh Rasulullah S.A.W. Bagaimanapun Abu Hurairah r.a. gembira "Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disakitinya secara sengaja atau tidak," katanya.

Begitu cintanya kepada Rasulullah S.A.W. sehingga siapa pun yang dicintai,ia ikut mencintainya. Misalnya,ia suka mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah S.A.W.mencium kedua cucunya itu.

Gelaran Abu Hurairah r.a. adalah karena kegemarannya bermain dengan anak kucing. Diceritakan pada suatu masa ketika Abu Hurairah r.a. bertemu Rasullullah S.A.W. dia ditanyai apa yang ada dalam lengan bajunya. Kemudian dia menunjukkan anak kucing yang ada dalam lengan bajunya lantas dia di beri gelar Abu Hurairah r.a. oleh Rasullullah S.A.W. Semenjak itu dia lebih suka dikenali dengan gelaran Abu Hurairah r.a..

Abu Hurairah r.a. berpindah ke Madinah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja menjadi buruh kasar bagi siapa yang memerlukannya Sering kali dia mengikatkan batu ke perutnya, karena menahan lapar yang amat sangat. Malah diceritakan bahawa dia pernah berbaring berhamparan mimbar masjid sehinggakan orang menyangka dia kurang waras. Saat Rasullullah S.A.W. mendengarkan perkara tersebut, baginda menemui Abu Hurairah r.a. yang menjelaskan bahwa dia berbuat sedemikian karena lapar, lalu Rasullullah S.A.W. pun segera memberinya makanan.
Abu Hurairah r.a. adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi S.A.W. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang miskin atau sedang menuntut ilmu dan tinggal di laman masjid. Beliau begitu rapat dengan Nabi S.A.W., sehingga baginda selalu menyuruh Abu Hurairah r.a. untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.

Pernah pula pada suatu masa, dia duduk di pinggir jalan tempat orang biasanya berlalu lalang sambil mengikatkan batu ke perutnya. Dilihatnya Abu Bakar r.a melintas. Lalu dia minta dibacakan satu ayat Al-Quran. "Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku pekerjaan," tutur Abu Hurairah r.a.. Tapi Abu Bakar r.a. cuma membacakan ayat, lantas berlalu.
Dilihatnya Umar ibn Khattab r.a.. "Tolong ajari aku ayat Al-Quran," kata Abu Hurairah r.a.. Ternyata dia kecewa sekali lagi karena Umar r.a.melakukan hal yang sama.

Tak lama kemudian Rasullullah S.A.W. pula yang berlalu. Nabi tersenyum. "Beliau tahu apa isi hati saya. Beliau membaca raut muka saya dengan tepat," tutur Abu Hurairah r.a..
"Ya Aba Hurairah!" panggil Nabi.
"Labbaik, ya Rasulullah!"
"Ikutlah aku!"
Beliau mengajak Abu Hurairah r.a. ke rumahnya. Di dalam rumah didapati semangkok susu. "Dari mana datangnya susu ini?" tanya Rasulullah S.A.W.. Beliau diberitahu bahwa seseorang telah memberikan susu itu.
"Ya Aba Hurairah!"
"Labbaik, Ya Rasulullah!"
"Tolong panggilkan ahli shuffah," kata Rasullullah S.A.W. Susu tadi lalu dibagikan kepada ahli shuffah, termasuk Abu Hurairah r.a.. Sejak itulah, Abu Hurairah r.a. mengabdi kepada Rasullullah S.A.W. , bergabung dengan ahli shuffah di pondok masjid.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan banyak hadis disebabkan beliau senantiasa berdampingan dengan Rasulullah selama 3 tahun, selepas memeluk Islam. Ini sebagaimana yang di riwayatkan olehnya :-

Terjemahannya :-
... sesungguhnya saudara kami daripada golongan Muhajirin sibuk dengan urusan mereka di pasar dan orang-orang Ansar sibuk pula bekerja di ladang mereka sementara aku seorang yang miskin sentiasa bersama Rasulullah S.A.W. 'Ala Mil'i Batni. Aku hadir di majelis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada saat mereka lupa.
(Al-Bukhari)

Pada mulanya Abu Hurairah r.a. mempunyai ingatan yang lemah lalu beliau mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah lalu mendoakan agar Abu Hurairah r.a. diberkati dengan daya ingatan yang kuat lalu semenjak hari itu Abu Hurairah dikurniakan dengan daya ingatan yang kuat yang membuat beliau meriwayatkan jumlah hadis terbanyak di kalangan para sahabat.

KISAH ABU HURAIRAH R.A. MENGAWAL GUDANG ZAKAT

Dikatakan pada satu ketika Abu Hurairah r.a. telah diamanahkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam Abu Hurairah r.a. melihat seseorang mengendap-gendap hendak mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itu pun hendak dibawanya berjumpa Rasulullah S.A.W. tetapi pencuri itu merayu minta dikasihani seraya menyatakan bahwa dia mencuri untuk memberi makan keluarganya yang kelaparan.
Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskan pencuri itu dengan janji agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Keesokkan harinya perkara tersebut dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. tersenyum lalu bersabda bahawa pencuri itu pasti akan kembali.
Ternyata keesokkan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah r.a. menangkap pencuri itu lalu hendak dibawanya berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. Sekali lagi, pencuri itu merayu sehingga Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi. Keesokkan harinya, dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang mengulangi sabdanya bahwa pencuri itu pasti akan kembali.
Saat pencuri itu ditangkap sekali lagi Abu Hurairah r.a. mengancam akan membawanya berjumpa Rasulullah S.A.W. Pencuri itu merayu meminta dibebaskan sekali lagi lagi. Ketika Abu Hurairah r.a. enggan melepaskannya, pencuri itu menyatakan dia akan mengajarkan sesuatu yang baik sekiranya ia di bebaskan. Pencuri itu menyatakan bahwa sekiranya seseorang itu membaca ayat Kursi sebelum tidur syaitan tidak akan mengganggunya.

Abu Hurairah r.a. merasa tersentuh mendengarkan ajaran pencuri itu lalu melepaskannya pergi. Keesokkan harinya dia melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang bersabda, pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkan kepada Abu Hurairah r.a. itu adalah perkara yang benar. Sebenarnya pencuri itu adalah syaitan yang dilaknat.
Walaupun Abu Hurairah r.a. merupakan seorang yang papa pada mulanya, dia telah dipinang oleh salah seorang majikannya yang kaya raya untuk putrinya, Bisrah binti Gazwan. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah pandangan seseorang dari membedakan kelas kepada menyanjung keimanan. Abu Hurairah r.a. dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.

Sejak menikah, Abu Hurairah r.a. membagi malamnya kepada tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Dia dan keluarganya tetap hidup sederhana walaupun setelah menjadi orang berada . Abu Hurairah r.a. suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan memberi sedekah rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.

Rasulullah S.A.W. pernah mengutuskan Abu Hurairah r.a. berdakwah ke Bahrain bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami r.a. Dia juga pernah diutus bersama Quddamah r.a. untuk mengutip jizyah di Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.

Mungkin disebabkan oleh itu, Abu Hurairah r.a. diangkat menjadi gubernur Bahrain ketika Umar r.a. menjadi Amirul Mukminin. Tapi pada 23 Hijrah, Umar r.a. memecatnya karena Abu Hurairah r.a. dituduh menyimpan uang yang banyak hingga 10,000 dinar. Ketika pembicaraan, Abu Hurairah r.a. membuktikan bahwa harta itu diperolehnya dari berternak kuda dan pemberian orang. Khalifah Umar r.a. menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu dia diminta menerima jabatan gubernur kembali, tapi Abu Hurairah r.a. menolak.

Penolakan itu diiringi lima alasan. "Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku tidak mau disebat; aku tak mau harta benda hasil pencarianku disita; dan aku takut nama baikku tercemar," katanya. Dia memilih untuk tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.

Khalifah Umar ibn Khattab r.a. pula pernah melarang Abu Hurairah r.a. menyampaikan hadis dan hanya membolehkan menyampaikan ayat Al-Quran. Ini disebabkan tersebar kabar angin bahwa Abu Hurairah r.a. banyak memetik hadis palsu. Larangan khalifah baru dibatalkan setelah Abu Hurairah r.a. mengutarakan hadis mengenai bahaya hadis palsu.

Hadis itu bermakna,
"Barangsiapa yang berdusta padaku (Nabi S.A.W.) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan diri duduk dalam api neraka."
Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad ibn Hanbal.

Pada saat kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan r.a. dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenali sebagai al-fitnatul kubra (fitnah/bencana besar), Abu Hurairah r.a. bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam keadaan siap untuk bertempur, Khalifah Ustman ibn Affan r.a. melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.

Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. , Abu Hurairah r.a. menolak tawaran menjadi gubernur Madinah. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap berkecuali dan menghindari fitnah. Setelah Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah r.a. dilantik menjadi gubernur Madinah setelah diusulkan oleh Marwan ibn Hakam. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Abu Hurairah r.a. meninggalkan sebanyak 5,374 hadis.
Hadis Abu Hurairah r.a. yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim berjumlah 325 hadis, oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadis, dan oleh Muslim sendiri 189 hadis. Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. juga terdapat dalam kitab-kitab hadis lainnya.
Terdapat pula golongan yang mempertikaikan tentang kesahihan hadis-hadis yang di sampaikan oleh Abu Hurairah r.a. seperti dari golongan orientalis barat, Ignaz Goldizihar yang telah membuat kritikan terhadap hadis dan para perawinya termasuk Abu Hurairah. Tuduhan tsb telah mempengaruhi beberapa penulis Islam seperti Ahmad Amin dan Mahmud Abu Rayyuh untuk mengkritik kedudukan Abu Hurairah sebagai perawi hadis. Tuduhan-tuduhan ini telah disanggah oleh Mustafa al Sibai dalam al Sunnah wa Makanatuha halaman 273-283.

Selain daripada golongan ini terdapat juga kritikan kuat daripada golongan Syiah. Ini mungkin disebabkan Abu Hurairah r.a. merupakan penyokong Ustman ibn Affan r.a. dan juga pernah menjadi pegawai dinasti Umayah. Penolakannya menyandang jabatan gubernur ketika ditawarkan oleh Ali r.a. dan ketiadaan hadis yang berisi pujian atau pengistimewaan kepada Ali dan keluarganya mungkin merupakan sebab-sebab lain Abu Hurairah dikritik oleh kaum Syiah.

Abu Hurairah sering sekali mengatakan, "Saya tumbuh dan berkembang dalam keadaan yatim, hijrah dalam keadaan miskin, pernah bekerja pada Bisrah binti Ghazwan dengan bayaran sekadar pengisi perutku. Saya melayani orang apabila turun dari kendaraan dan membantu mengangkat badannya sewaktu naik. Lalu Allah berkenan mengawinkannya (Bisrah bint Ghazwan) denganku. Segala puji bagi Allah yang membuat agama tegak dan membuat Abu Hurairah menjadi pemimpin."

Saturday, July 16, 2005

Detik-Detik Terakhir Rasulullah


Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.




Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu,Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah,
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan Sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam."Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,"Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,"kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka,para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, " kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" tanya Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbahpeluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku,
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah
menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku,umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Sebarkanlah kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.

Wednesday, July 13, 2005

Stress Management

Bukan berat beban yang membuat kita stress, tetapi lamanya kita memikul beban tersebut (Stephen Covey)

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?" Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr."Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya." kata Covey.
"Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya.Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat." "Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." lanjut Covey.

"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi". Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi.

Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada dipundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya...!! Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak dapat dilihat, atau disentuh, tapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Start the day with smile and have a good day ........